Ancaman Baru dari Teheran: AS Tak Berdaya Hadapi Drone Terbang Rendah Iran

 


Pemerintahan Amerika Serikat untuk pertama kalinya mengakui secara terbuka keterbatasan sistem pertahanan udaranya dalam menghadapi ancaman drone Iran. Pengakuan mengejutkan ini disampaikan dalam rapat tertutup yang digelar di Capitol Hill, Selasa (3/3/2026), dihadapan para anggota Kongres AS. Pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa sistem pertahanan udara negara itu tidak mampu mencegat seluruh drone serang satu arah milik Iran. Pengakuan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran yang memicu kekhawatiran meluasnya perang di kawasan Timur Tengah. Situasi ini dinilai semakin krusial mengingat Iran dikenal memiliki stok drone dalam jumlah besar dengan teknologi yang terus berkembang.

Dalam rapat tertutup tersebut, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan AS Dan Caine mengakui bahwa drone serang Iran, khususnya jenis Shahed, menjadi tantangan besar bagi pertahanan udara Amerika. Para pejabat menjelaskan bahwa karakteristik drone Iran yang terbang rendah dan lambat membuatnya lebih sulit dideteksi dibandingkan rudal balistik. Sistem radar yang dirancang untuk menangkal rudal berkecepatan tinggi ternyata kurang efektif mendeteksi objek lambat yang terbang di ketinggian rendah. Dua sumber yang mengikuti jalannya rapat mengatakan bahwa drone-drone tersebut "menimbulkan masalah yang jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya." Kondisi ini memaksa Pentagon untuk mengevaluasi ulang strategi pertahanan udara mereka.

Keterbatasan sistem pertahanan udara AS ini menjadi perhatian serius mengingat Iran telah berulang kali mendemonstrasikan kemampuan drone-nya dalam berbagai konflik di Timur Tengah. Negara-negara proksi Iran seperti Houthi di Yaman juga terbukti sukses menggunakan drone untuk menyerang target di Arab Saudi dan UEA. Sementara itu, ketegangan AS-Iran terus meningkat setelah serangkaian insiden di Teluk Persia dan pernyataan saling ancam dari kedua belah pihak. Para pengamat militer menilai pengakuan ini dapat mengubah kalkulasi strategis AS dalam menghadapi potensi konflik terbuka dengan Iran. Pentagon disebut akan segera mengajukan permintaan anggaran tambahan untuk pengembangan teknologi anti-drone yang lebih canggih.